Adakah rindu untuknya (?)

Kita pasti pernah terjebak.
Terjebak oleh kata yang bernama rindu.
Memastikan bahwa tak ada yang lebih menyiksa dari rindu yang tak berpenghujung.

Barangkali Bilal adalah korbannya.
Dada tercekat sesak ditinggal sang kekasih, Rasulullah saw.
Boleh jadi dia bangkit, namun rupanya raga tak cukup kuat menghalau rindu yang menjadikannya hampa. Rasulullah telah pergi.
Perpisahan telah membakar jiwanya dengan rindu. Karna sebenar cintanyalah yang membuat dirinya terpasung hingga memutuskan berhenti lantunkan panggilan.
Memang benar adanya. 
 
Jalan cinta selalu melahirkan perubahan besar dengan cara yang sederhana. Karna ia menjangkau pangkal hati secara langsung darimana segala perubahan dalam diri seseorang bermula. Bahkan ketika ia menggunakan kekerasan, cinta selalu mengubah efeknya, dan seketika ia berujung haru. 
 
Cinta telah bekerja dengan baik di jiwa Bilal.
Mengagumkan. Mempesona.
Hingga meluluhlantakkan sebuah kebanggaan.

Jika rindu bilal adalah pembuktian cintanya mewujud ketakberdayaan,
Maka butuh seberapa bukti utk meyakinkan diri bahwa kita juga rindu? Sedang kita tak merasa sakit ketika Rasulullah di hina. Sedang kita tak merasa apapun ketika kisahnya menyayat perih.
Barangkali cinta kita masih terlalu rapuh utk dibanggakan. Hingga tak satupun resah yang mengemuka membasahi jiwa.
Padahal Rasulullah..
Ya. Rasulullah..
Benar. Hanya Rasulullah..
Yang mengingat kita di saat-saat kematiannya.
Sedang kita, hanya menyisakan sedikit rindu tanpa sembab.

Komentar

Postingan Populer